Selasa, 30 September 2008

Tip Merawat Uang Logam


Oleh: DJULIANTO SUSANTIO

Merawat uang logam relatif lebih sukar daripada merawat uang kertas. Tanpa perawatan yang memadai, sebuah koleksi akan menjadi rusak dalam beberapa tahun. Sebaliknya, dengan memberikan perhatian, keadaan fisik koin akan lebih baik.

Bila logam bereaksi dengan oksigen atmosfer, akan membentuk oksida. Oksida ini menyebabkan kerusakan pada permukaan koin. Logam bisa juga bercampur dengan uap, sulfur dioksida, hidrogen sulfida, asam encer, dan unsur-unsur pokok yang terdapat di atmosfer.

Proses pencetakan uang melibatkan banyak mesin berat dan tenaga manusia. Karena itu, sesampai di tangan kolektor, koin tersebut telah membawa bibit-bibit perusak kilauan uang. Pencegahannya adalah koin tersebut harus dicelupkan ke dalam bahan bakar yang biasanya digunakan sebagai pembuat korek api. Bahan ini akan melarutkan minyak dan lemak yang berasal dari pabrik berikut kotoran yang menempel.

Kesulitan-kesulitan yang sebenarnya timbul setelah perawatan awal ini karena untuk selanjutnya permukaan logam dipengaruhi oleh perubahan atmosfer. Pada dasarnya terdapat dua pilihan untuk melindungi koin. Pertama, melapisi logam untuk melindungi bagian luar koin dari atmosfer. Kedua, koin dihindarkan dari pengaruh zat-zat perusak yang terdapat di atmosfer.

Beberapa museum besar di Inggris menggunakan pernis untuk melapisi koin. Teknik dan cara ini dinilai baik. Lapisan pernis menimbulkan sinar tiruan pada koin.

Perusakan oleh atmosfer terhadap koin dapat diketahui dengan adanya uap air. Metode pencegahan yang paling tepat adalah meletakkan koleksi di dalam tempat kedap udara. Boleh juga memberi kristal-kristal biru silika gel.

Bila silika gel sudah dipenuhi uap air, warnanya akan berubah menjadi merah muda. Namun silika gel ini dapat berubah lagi menjadi biru bila dijemur di bawah terik matahari atau dipanaskan di atas api. Jadi bisa digunakan kembali.

Dapat Dicuci

Banyak pendapat yang menyatakan bahwa biarkan saja koin itu kotor daripada rusak. Artinya, koleksi-koleksi tersebut jangan diutak-atik. Namun tentu saja banyak kolektor tidak betah melihat koleksinya dalam keadaan dekil.

Pada prinsipnya hampir semua koin dapat dicuci dengan air hangat dicampur deterjen. Gosok dengan ujung jari. Jangan menggunakan alat yang kasar permukaannya. Bersihkan secermat mungkin. Kotoran yang masih melekat bisa dicungkil dengan tusuk gigi. Lantas segera keringkan dengan cara menepuk-nepuk permukaannya.

Berbagai jenis cairan kimia dapat dipergunakan. Misalnya cairan amonia dan air hangat untuk membersihkan perak dan cairan asam sitrat untuk emas. Untuk membersihkan tembaga dan perunggu digunakan 20 persen cairan sodium karbonat. Untuk timah, seng, besi, dan baja digunakan 5 persen cairan soda kostik. Bila belum jelas, kita bisa bertanya pada toko-toko numismatik atau perajin ikatan batu permata.

Setelah itu cuci dengan air dan keringkan dengan hati-hati. Bila diperlukan boleh gunakan cotton buds (batang kecil yang dilengkapi kapas di kedua ujungnya) atau sikat halus. Sebaiknya sikat terbuat dari bulu hewan. Jangan sikat nilon atau fiber buatan.

Setelah bersih, kolektor boleh melapisi koin itu dengan cairan pengkilap batu permata. Belum ada keluhan terhadap upaya ini. Sebaliknya bila menggunakan brasso atau cairan pengilap lain, lama-kelamaan koin yang digosok akan rusak permukaannya.

Yang agak rumit adalah menangani koin yang pernah terpendam dalam tanah atau terbenam dalam laut. Masalahnya, telah terjadi reaksi kimia antara logam dengan tanah dan logam dengan garam. Untuk masalah ini jangan sembarang mencuci atau membersihkannya. Sedapat mungkin mintalah nasihat kepada petugas museum terdekat.

Biasanya museum-museum besar mempunyai laboratorium konservasi untuk memelihara dan merawat benda koleksi yang rusak. Beberapa museum bahkan dilengkapi peralatan modern untuk membersihkan karat.

Tempat Penyimpanan

Salah penanganan merupakan masalah yang sering dihadapi kolektor. Bagitu pula dalam menempatkan koin. Menurut sejumlah pakar, plastik tertentu dapat membahayakan koin. Tempat penyimpanan yang paling aman terbuat dari akriliks, polyesterene, dan polypropylene. Sedangkan yang diragukan adalah polyvinyl chloride (PVC).

Ironisnya, pengotoran justru dilakukan oleh si kolektor sendiri. Tanpa sadar minyak dan asam akan melekat pada koleksi karena dipegang secara sembarangan.

Seharusnya koin dipegang di antara ibu jari dan telunjuk. Sangat baik kalau kita menggunakan sarung tangan sutera atau katun untuk memegang koleksi tersebut. Kalaupun terpaksa, album koleksi harus sering diangin-anginkan.

Penggunaan album plastik untuk waktu lama dinilai akan merusak koleksi. Sebisa mungkin kolektor harus menghindari pemakaian album seperti itu. Di Eropa, para numismatis profesional menggunakan lemari kabinet yang tersusun atas laci-laci berlubang. Kabinet ini terbuat dari kayu mahoni yang dikeringkan, kenari, atau rosewood. Kayu-kayu ini dianggap bersahabat dengan koleksi. Kabinet seperti ini mahal harganya, namun sangat disukai numismatis Jerman dan Italia. Tempat penyimpanan yang lebih murah diproduksi di Inggris berupa kabinet berbentuk koper kecil sehingga mudah dibawa ke mana-mana.

DJULIANTO SUSANTIO, Numismatis, tinggal di Jakarta

(Pernah dimuat di SUARA PEMBARUAN MINGGU, 29/8/2004)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

♦ Kontak Saya ♦

Nama Anda :
Email Anda :
Subjek :
Pesan :
Masukkan kode ini :

.

Photobucket

.

Pyzam Glitter Text Maker