Tampilkan postingan dengan label Kolektor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolektor. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 November 2009

Koleksi Uang, Investasi, dan Belajar Sejarah

Saturday, 16 August 2008

Selain barang-barang antik, uang juga ternyata bisa dijadikan barang koleksi. Terutama uang kuno atau uang jaman dulu yang umurnya sudah bertahun-tahun.

Uang koleksi pun bisa saja uang asing atau uang negara sendiri. Untuk mendapatkannya, tidak jarang para numismatis (kolektor uang) memburunya sampai ke pelosok daerah, bahkan ke luar negeri.

Siapa sangka kalau di negara kita ada perkumpulan para pengoleksi uang kuno yang tergabung dalam ANI (Asosiasi Numismatika Indonesia). ANI Jakarta sudah berdiri sejak tahun 2004 lalu dan merupakan wadah para pengoleksi uang kuno yang ada di Indonesia, khususnya wilayah Jakarta.

Dengan adanya asosiasi ini diharapkan para numismatis bisa saling berinteraksi atau berkomunikasi dan bersama-sama menggali ilmu tentang uang sejarah atau uang kuno.

Selain menyenangkan dipandang, mengoleksi uang juga mendatangkan kepuasan batin, karena bisa memiliki sesuatu yang langka dan tak dimiliki orang lain. Demi kesenangan dan kepuasan batin tadi, para kolektor yang rata-rata adalah pengusaha atau eksekutif itu, seperti yang telah disebutkan, tak segan-segan berburu koleksi hingga ke luar negeri.

Tak hanya sibuk berburu, para pengusaha dan eksekutif yang sebetulnya sangat sibuk itu, rela pula menghabiskan hari liburnya untuk mengurusi barang-barang koleksinya. Selain menatanya dengan hati-hati ke dalam album khusus, mereka juga bisa keasyikan berjam-jam mengukur, menimbang, bahkan mencium si duit koleksi.

Hal ini diakui oleh mantan Ketua ANI Jakarta Periode 1, Uno. Menurutnya, mengoleksi uang kuno merupakan hobinya sejak umur 5 tahun. Namun, untuk membiayai hobinya tersebut, dirinya tidak harus mengeluarkan kocek pribadinya.

”Setiap uang koleksi, bisa menghasilkan dan bisa memenuhi biaya perawatannya. Sehingga selain jadi hobi, koleksi uang langka juga bisa dijadikan ladang investasi,” katanya.

Uno menambahkan, tergabung di dalam asosiasi ini sangat menyenangkan. Terlebih saat lelang tiba. Senang dan tegang. Sensasi itulah yang dirasakan pecinta uang kuno Indonesia ketika ada di dalam suasana lelang.

Seperti halnya saat hajatan Java Auction III yang diselenggarakan sekitar 4 Agustus 2007 lalu di Hotel Red Top, Jakarta. Dalam lelang akbar tahunan ini, setiap numismatis bisa membawa pulang uang kertas dan koin langka yang sudah sekian lama mereka idam-idamkan.

Selain mereka bisa mendapatkan uang koleksi yang baru, peserta lelang pun bisa sekaligus menjual koleksinya dengan harga tinggi. Apalagi, jika lelang tiba, bukan hanya kolektor uang dari negara sendiri yang hadir. Melainkan, para kolektor dari luar negri pun akan turut serta dalam acara lelang ini.

Bicara soal anggota ANI, Uno menuturkan, mengoleksi duit dan alat pembayaran lainnya memang sudah lama dilakoni orang sedunia, termasuk di Indonesia. Untuk saat ini yang tergabung dalam ANI Jakarta sekitar 70 orang.

”Kolektor yang ada, termasuk tak banyak. Yang lebih banyak justru kolektor besar yang tak mau jadi anggota. Namun ada juga kolektor yang sangat ingin menjadi anggota,” tukas Uno.


Investasi dan Belajar Sejarah

Untuk mengecek atau memeriksa uang, tidak jarang seseorang menciumi uang kuno tersebut. Hal ini dilakukan untuk memastikan uang itu belum dibersihkan dengan zat kimia agar tampak kinclong. Maklum, pas membeli, sering kali si kolektor tidak punya waktu dan kesempatan melakukan pengecekan sedetail itu.

Tak hanya makan waktu, kegemaran yang satu ini juga butuh modal. Seperti halnya Uno yang sudah menekuni hobinya sejak tahun 1998 lalu. Hingga saat ini dirinya sudah mempunyai sekitar 3-4 ribu lembar uang kuno kertas. Bahkan menurutnya, jika dikumulatifkan sudah sekitar Rp 3-4 milyar dananya habis untuk memenuhi hobinya mengoleksi uang kuno.

Lebih jauh Uno menegaskan, mengoleksi uang kuno bukan hanya sekedar koleksi saja, tapi numismatis juga dituntut untuk bisa belajar sejarah yang berkaitan dengan uang kuno tersebut. Bahkan, orang yang mengoleksi uang kuno juga dituntut untuk bisa mengetahui pergolakan ekonomi yang sudah atau sedang terjadi.

Jadi, selain bisa memenuhi hobinya, keuntungan lain menjadi numismatis adalah mempunyai pengetahuan yang luas tentang mata uang dan sejarahnya. Selain itu, seorang numismatis juga bisa mempunyai pergaulan yang sangat luas.

Dalam hal ini, mereka bisa saling bertemu dan bertukar pikiran antar sesama pengoleksi uang kuno. Bahkan uang kuno juga bisa dijadikan sebagai investasi. Dikarenakan nilainya yang tinggi. Terlebih uang yang jumlahnya sangat sedikit.

Numismatika memang bisa menjadi wahana investasi. Sebab, harganya cenderung terus naik. Bahkan, jika jeli memilih barang yang benar-benar langka dan unik, kolektor bisa menangguk keuntungan puluhan, ratusan bahkan ribuan kali lipat.

Meski umumnya butuh modal besar, mengoleksi uang atau numismatika justru bisa mendatangkan keuntungan finansial yang jauh lebih besar. ”Selain bisa mendatangkan kesenangan, hobi ini juga bisa mendatangkan duit,” ucap Uno yang saat ini juga berprofesi sebagai kontraktor.

Para kolektor yang memiliki beberapa lembar uang dari jenis yang sama akan menjual sebagian lembaran duit itu. Sisanya untuk dikoleksi sendiri. Keuntungan yang mereka peroleh memang besar. Dalam beberapa tahun, bahkan beberapa bulan saja, harga duit kuno bisa naik puluhan bahkan ratusan persen.

Umur yang lebih tua tak selalu lebih mahal. Jika Anda tertarik menjadi kolektor atau kolekdol, jangan pernah ragu, Anda bisa bergabung dalam ANI. Tidak punya modal besar, bukan suatu masalah. Dengan modal sekitar Rp 1 juta atau kurang dari Rp 1 Juta pun sudah bisa mulai jadi numismatis.

Dengan modal yang sangat terbatas, tentu Anda tak bisa langsung membeli koleksi yang mahal-mahal. Anda sebaiknya fokus. Misalnya, mengkoleksi uang dengan seri tumbuhan atau hewan saja dulu. Anda pun harus sabar mengumpulkan koleksi itu dari tahun ke tahun.

Hal terpenting dalam mengoleksi dan investasi numismatika adalah kejelian memilih barang. ”Musuh utama kita adalah uang palsu,” ujar Uno. Selain itu, Anda juga harus jeli memilih barang yang memang bernilai tinggi.

Nilai uang atau benda numismatika lainnya ditentukan oleh beberapa hal. Paling penting adalah tua dan langka. Makin tua, nilai uang umumnya akan semakin tinggi. Tapi, sering kali uang yang tahunnya lebih tua bisa jadi harganya lebih murah dari yang tahunnya lebih muda. Sebab, ketersediaan atau populasi yang muda lebih sedikit.

Di luar itu semua, hobi semacam ini, tentunya memiliki nilai tersendiri. Selain sebagai kesenangan dan memiliki nilai investasi, tentunya numismatika sama saja dengan museum yang menyimpan sejarah tak bernilai.

(infokomunitas.com)

Kamis, 12 Maret 2009

Minat Numismatik di Jabar Masih Rendah

- Untuk Bergabung dengan ANI

Bandung, Kompas - Minat para kolektor uang kuno atau numismatik di Jawa Barat untuk menjadi anggota asosiasi masih rendah. Padahal, peran asosiasi dapat menguntungkan karena berfungsi sebagai ajang tukar-menukar informasi mengenai penjualan uang kuno serta menggalakkan hobi tersebut di masyarakat.

Demikian dikatakan Ketua Asosiasi Numismatik Indonesia (ANI) Daerah Jawa Barat Sutan Hidayatsyah di Bandung, Sabtu (4/6). Rendahnya minat untuk bergabung dalam asosiasi dapat dilihat dari jumlah anggota ANI Jabar yang hanya 40 orang. Padahal, penggemar uang kuno di Jabar sekitar 500 orang, sedangkan di seluruh Indonesia sekitar 5.000 orang.

"Jumlah penggemar uang kuno di Jabar bisa saja lebih dari 500 orang. Dari dulu kalau ada acara berkumpul para kolektor yang muncul orangnya ya itu- itu saja," kata Sutan.

Dikemukakan, target menarik kolektor mata uang sebanyak 150 orang untuk tahun 2005 merupakan harapan yang cukup berat karena kurangnya sosialisasi keberadaan ANI. Para penggemar uang kuno biasanya hanya bertransaksi langsung antar-individu tanpa perantara. Penggemar uang kuno juga kerap mempertanyakan manfaat menjadi anggota ANI. Padahal, ujar Sutan, menjadi anggota tidak begitu memberatkan dari segi biaya, dibanding keuntungan yang didapat.


Uang palsu

Iuran anggota ANI per bulan hanya Rp 15.000 dan para kolektor akan mendapatkan informasi dari anggota lain. Selain itu, buletin juga berfungsi sebagai media untuk menjual uang kuno. Sutan mengakui, iuran anggota ANI Jabar sebenarnya tidak mencukupi untuk menerbitkan buletin sehingga harus ditambah dari pengurus asosiasi.

Wakil Ketua ANI Jabar Puji Harsono mengatakan, asosiasi berfungsi untuk memberi informasi mengenai keabsahan, kualitas, dan harga uang kuno yang pantas. Juga untuk mencegah anggotanya menjual uang palsu karena bertentangan dengan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Menurut Puji, numismatik bila ditekuni secara serius dapat menghasilkan keuntungan karena nilai mata uang kuno ada yang mencapai miliaran rupiah. Misalnya, mata uang gulden Belanda yang dikeluarkan VOC tahun 1796.

Keistimewaan uang kuno Indonesia terletak pada keindahan serta variasi desainnya yang khas. Puji menyayangkan banyaknya uang kuno berada di tangan kolektor luar negeri, terutama Singapura, karena pedagang uang kuno di luar negeri mampu menawar harga lebih tinggi. Kolektor luar negeri terutama menyukai uang kuno yang memiliki ciri khas daerah. Misalnya, uang yang diterbitkan pemerintahan darurat di Sumatera Barat ketika ibu kota negara dipindahkan ke Bukittingi pada masa agresi militer Belanda tahun 1948. (bay)

(Sumber: Kompas, Senin, 6 Juni 2005)

Minggu, 22 Februari 2009

Kolektor Uang Kuno: Markus Sajogo Ikut Lelang di Belanda


Oleh: Oky Dian Sulistyo


Salah satu numismatis terkenal di Surabaya adalah Markus Sajogo. Mengumpulkan uang kuno sudah dilakukan Markus Sajogo tiga puluh tahun silam. Dia memburu uang kuno mulai dari proses lelang sampai informasi teman. Pernah dia sampai berbagai negara, mulai Kanada, Amerika Serikat bahkan sampai Belanda hanya untuk memburu uang kuno. Dalam negeri?”idak jauh-jauh cukup di Jakarta saja,” katanya santai.

Markus Sajogo memburu uang-uang kuno tersebut sampai ke Belanda. Di sebuah kota bernama Bussum dia biasanya mengikuti pelelangan uang-uang kuno setiap tahunnya. Untuk mengikuti perkembangan pelelangan mata uang kuno biasanya dia dikirimkan sebuah katalog terbaru dari Belanda.

Hingga saat ini, koleksi uang kuno Markus jika dihitung sampai ribuan item. Uang-uang itu disimpan dalam puluhan album dan didepositkan di salah satu bank di Surabaya. Menurut Markus, nilai uang kuno miliknya bila dirupiahkan mencapai milyaran rupiah.

Ketika Surabaya Post menelepon untuk meminta ditunjukkan uang kuno koleksinya, Markus esoknya menunjukkan satu album berisi koeksi uang kunonya. Semuanya asli. Salah satunya uang 300 Gulden yang dikeluarkan tahun 1864.

Menurut Markus, dia harus lebih dulu mengambil koleksinya itu di salah satu bank di Surabaya agar bisa menunjukkan koleksinya kepada Surabaya Post. “Uang 300 Gulden ini belum pernah difoto media lain. Baru Anda yang saya tunjukkan koleksi saya ini,” ujar pendiri Lions Club ini saat ditemui di kediamannya, Jalan Untung Suropati 45 akhir pekan lalu.

Pria yang saat ini harus berada di kursi roda karena serangan stroke itu kemudian memberi kesempatan kepada Surabaya Post untuk memotret koleksi berharganya itu.

Sekilas tidak ada yang istimewa pada uang itu. Dari segi ukuran, uang kertas itu lebih besar dari uang kertas Indonesia. Ukuran tepatnya 200x125 mm. Terdapat foto Jan Pieterszoon Coen, gubernur VOC Hindia Belanda yang berkumis tebal, di bagian tengah atas. Terdapat tulisan bahasa Belanda yang bercetak paling besar di uang itu. “Drie Hunderd Gulden” yang artinya 300 Gulden.

Di bagian atas tulisan nilai uang itu, tertera bank yang mengeluarkannya, yakni “De Javasche Bank” (nama Bank Indonesia zaman kolonial Belanda). Tahun pengeluaran uang tertera di bawah tulisan nilai mata uang, yakni 1864.

“Dulu pernah ada orang asing menawar uang 300 gulden ini Rp 200 juta, tapi tidak saya berikan karena uang ini sudah menjadi bagian dari hidup saya,” ujar Markus dengan bangga.

Menurut Markus, untuk menjadi seorang numismatist profesional, koleksi idealnya dimulai dengan urutan tahun, khusus untuk uang Nusantara. Baru memburu uang kuno luar negeri. ”Namun, banyak di antara para kolektor yang tidak lengkap koleksi uang Nusantaranya. Koleksinya ‘bolong-bolong’. Tahun pengeluaran uang kunonya banyak yang tidak urut,” ujarnya.

Menurut pria yang mengklaim sebagai kolektor uang kertas kuno Nusantara terlengkap di Jawa Timur itu, uang kuno dikatakan uang Nusantara karena sudah ada sejak kata Indonesia belum ada. Dengan kata lain, uang itu dibuat sebelum Indonesia merdeka.

Markus juga mengaku dirinya bukan hanya kolektor, tetapi juga menjadikan uang kuno sebagai investasi. “Uang kuno itu kan harganya mahal. Kalau disimpan, tiap tahun harganya akan naik terus. Itu kan sama saja saya menabung,” tuturnya sambil tersenyum.

Apa pernah menjual uang kuno koleksinya? ”Walaupun saya belum pernah menjualnya, saya selalu optimistis nilai penjualan mata uang kuno selalu meningkat setiap tahunnya,” kata kakek bercucu tiga tersebut.



Toko Uang Kuno

Bicara tentang jual beli uang kuno, di Surabaya saat ini terdapat toko benda antik yang juga menjual uang kuno. Misalnya Java Coins, sebuah toko di lantai ground di Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya Barat milik Ibnu Soekarno.

Pengamatan Surabaya Post, tiap hari selalu ada orang yang mampir ke toko itu, sekedar melihat atau membeli. Siang itu, seorang pria mengamat-amati uang koin dengan kaca pembesar yang disediakan pihak toko. “Aku mau beli koin kuno untuk melengkapi koleksi di rumah,” tuturnya.

Ibnu Soekarno sendiri selain memajang uang kuno di tokonya juga masih memiliki banyak simpanan uang kuno di rumahnya, Jl Raya Dukung Kupang Surabaya. Saat Surabaya Post berkunjung ke rumahnya, terlihat etalase berukuran lebar 50 cm, panjang 2 meter, dan tinggi 1 meter penuh koleksi uang kertas dan koin kuno.

Ibnu mengatakan, uang kertas diminati daripada koin. Menurut pendapatnya, itu karena uang kertas kuno mempunyai banyak variasi gambar dan warna. Menurut dia, tantangan memiliki uang kertas kuno adalah pada cara merawatnya. “Tidak boleh terlipat, kena flek, dan ada bercak noda. Jadi, menyimpannya memang harus hati-hati,” ujarnya.

Dia menambahkan, gambar yang tertera di uang kertas kuno bisa menjelaskan kondisi Indonesia saat uang itu dikeluarkan. Contohnya gambar orang menyadap karet yang terdapat pada Rp 50 tahun 1947. “Maknanya pada tahun 1947 kondisi perekoniman Indonesia sedang membaik. Sektor perekonomian terbaik saat itu berada di Karet dan Tembakau,” kata dia.

Makna lain di balik uang kertas adalah nomor seri tertentu sering digunakan sebagai tradisi orang-orang Jawa kuno untuk mahar pernikahan. Contohnya tanggal pernikahan yang jatuh pada 160808, maka mahar adalah uang Rp 160.000, Rp 800, dan pecahan Rp 1, Rp 2, dan Rp 5.

Ada beberapa koleksi uang kertas kuno milik Ibnu yang sepintas terlihat ganjil. Sebab, uang-uang kertas itu hanya separuh dan terlihat bekas disobek. Separuhnya entah ke mana. Ternyata menurut Ibnu, uang kertas yang hanya separuh itu menyimpan sejarah.

“Pemerintah saat itu sengaja memotong uang sebagai bukti obligasi atau surat utang. Konon saat uang itu dipotong, nilainya menjadi 10% atau bahkan 50%. Karena itu, banyak orang kaya yang menjadi stress,” ujar Ibnu yang kemudian menunjukkan contoh uang keras seri gajah Rp 1.000 keluaran 1957 yang dipotong hingga nilanya menjadi Rp 100.

Menurut Adi Pratomo, kolektor uang kuno yang juga teman Ibnu, dengan uang kita bisa melihat sejarah tanpa rekayasa. Sebab, dari uang kita bisa tahu sejarah yang baik atau yang buruk. Namun, tidak banyak ahli sejarah yang tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenainya. ”Meneliti uang kuno dianggap tidak mempunyai nilai jual, ” kata Adi yang juga dikenal sebagai pemecah kode-kode uang Ori.

Di kalangan kolektor uang kuno, ada uang kuno yang sangat mahal dan diburu para kolektor. Yaitu uang 600 ORI keluaran tahun 1948 yang hanya berjumlah 24 lembar di seluruh dunia. Uang 600 ORI itu adalah uang yang tidak jadi diedarkan oleh Bank Indonesia.

Menurut Markus Sajogo maupun Ibnu Soekarno, Bank Indonesia saat itu hanya menyelesaikan gambar depannya saja. Uang itu saat ini berada di tangan orang yang dulu diberi oleh orang yang mencetak uang tersebut. Uang yang hanya berjumlah 24 lembar di dunia itu saat ini berharga di kisaran Rp 40.000.000 sampai Rp 50.000.000. (*)

(Sumber: Surabaya Post, Selasa, 4 November 2008)

Puji Harsono, Merangkai Sejarah dari Koin China


Mas kenapa kok orang China banyak sekali di Indonesia? tanya Rahmaningrum (34), istri Puji Harsono (46). Pertanyaan sederhana itu membuat penggemar koin tua ini terusik. Apalagi ketika berkeliling, Puji menemukan ada banyak koin China di hampir seluruh daerah di Indonesia.

KOIN-KOIN itu ia simpan dan koleksi. Kini koleksinya sudah hampir satu ton atau sekitar 300.000 keping. Dari koleksi itu, ia makin tertarik mendalami sejarah China di Indonesia. "Mumpung saya punya koinnya, tahu sejarahnya, dan masih bersemangat meneliti," ujar Puji.

Ia memiliki obsesi tak hanya mengungkap kapan orang China datang ke Indonesia dan kapan China menyebarkan Islam di Indonesia. Puji memiliki koin China dari dinasti Sebelum Masehi sampai tahun 1900-an. Koin-koin itu sebagian besar 90 persen ia dapatkan dari Jawa Timur. Sisanya, 9,9 persen dari Jawa Tengah dan 0,1 persen dari Jawa Barat.

"Saya tak tahu kenapa di Jawa Barat hanya ditemukan sedikit koin China. Padahal, di sana ada Banten yang menjadi pusat perdagangan," ujar Puji. Ia menduga koin-koin China di Jawa Barat masih terpendam jauh dalam tanah karena tertimbun lahar saat gunung merapi di daerah itu meletus hebat. "Buktinya, candi di Cicalengka saja baru ditemukan sekarang," kata Puji.

Sementara itu, di Jawa Timur-yang memilih pelabuhan sebagai pintu gerbang perdagangan dengan bangsa lain-koin China mudah ditemukan di goa-goa atau dari galian tanah para petani.

Puji yang berdomisili di Bandung itu mengatakan, sebenarnya untuk penelitian itu, ia ingin sekali meneruskan kuliah di S2 Sejarah, sayangnya di Universitas Padjadjaran tak ada program S2 untuk sejarah.

Menemukan uang kuno baru selalu membuatnya bergairah untuk meneliti. Ia rajin memburu buku yang memuat sejarah uang di arsip nasional, perpustakaan-perpustakaan, bahkan ke luar negeri. Salah satu sumber yang banyak membantunya adalah sebuah catatan dari China tentang Indonesia. Buku itu sudah diterjemahkan dalam bahasa Belanda dan Inggris. "Untungnya catatan sejarah tentang segala sesuatu yang terjadi 1.600 Setelah Masehi masih bisa ditemukan," kata Puji.

Karena cintanya pada uang juga, Puji mempelajari berbagai huruf dan bahasa asing. Jangan heran kalau ia begitu fasih membaca angka-angka yang ditulis dalam huruf Arab, China, dan Jawa Kuno.

"Tetapi, khusus untuk angka dan huruf China, saya hanya menghafal karakternya saja. Tetapi, saya tak bisa berbahasa China. Bahasa Arab, saya bisa sedikit karena pernah belajar waktu sekolah. Tetapi, saya suka Arab Melayu. Tulisannya lebih bagus," katanya.

Sampai saat ini, menurut Puji, jarang ada orang meneliti uang. Itu sebabnya tak banyak orang mengetahui sejarah uang yang beredar di Indonesia. Maka, lelaki beretnis China yang beristri orang Melayu ini bercita-cita membagikan pengetahuannya tentang alat tukar kepada masyarakat luas. Salah satu jalan yang ditempuhnya adalah melakukan pameran bertajuk Bandung Filanum 2004 di Gedung Pasarbaru, Bandung, pada 23-27 September 2004.

Acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Numismatik Indonesia (ANI), Indonesian Topical Association, Perkumpulan Filatelis Indonesia. Di ANI, Puji menjabat sebagai wakil ketua.

Filanum singkatan dari filateli dan numismatika. Filateli adalah pengumpulan prangko dan benda pos lainnya. Sedangkan numismatika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang koin, token, uang kertas, dan alat tukar lainnya, juga medali.

Bandung Filanum 2004 tidak memamerkan uang dan alat tukar lainnya dengan informasi mini, tetapi juga menuliskan sejarah uang tersebut. Rasanya, orang awan yang jarang mengetahui sejarah uang akan membelalakkan mata ketika melihat koleksi dan membaca sejarahnya.

Anda mungkin sering mengganti kata rupiah menjadi perak. Misalnya, saat mengatakan, "Saya cuma punya uang 500 perak." Pernahkah Anda bertanya kenapa harus diganti perak? Kenapa tidak emas?

Pada tahun 1892, Belanda mengeluarkan uang koin dari perak seharga 1 gulden. Satu gulden berarti satu perak atau satu rupiah. Mungkin dilatarbelakangi hal itu, kata Puji Harsono, istilah perak masih dipakai hingga sekarang. Kata pengganti lainnya, seperti ringgit (2,5 gulden), juga masih dikenal. Namun, ukan (0,5 gulden), setalen (1/4 gulden), dan ketit (1/10 gulden) mungkin tidak lagi terdengar.

Tidak hanya itu, istilah duit, uang, dan dokat sebetulnya sudah digunakan sebagai nama uang ratusan tahun lalu. Di zaman pendudukan Belanda pernah beredar uang Doit (1821) dan Doit VOC Utrecht (1790). Kata uang bisa jadi berasal dari penyebutan nama koin Wang Keteng tahun 1809.

Tahun 1700-an juga dikenal ducaton. Satu dukat bernilai 240 doit atau 300 sen. Mungkin juga kata dokat berasal dari ducaton atau ukuran uangnya dukat. Tak cuma itu, Anda juga mungkin belum pernah melihat uang terbuat dari bambu pipih seperti gagang es krim.

Uang itu adalah token atau mata uang yang beredar hanya di wilayah tertentu. Token dari bambu itu hanya beredar di perkebunan Tjirohani, Sukabumi. Di bagian muka dan belakangnya ditulisi acht 8. Nilainya 8 sen. Token ini dibuat sekitar tahun 1870 sampai 1885.

Salah satu alasan token ini dibuat adalah untuk mencegah para buruh perkebunan kabur dari perkebunan setelah mendapat upah. Karena selain di wilayah perkebunan, uang bambu itu tak bisa digunakan di wilayah lain.

Ada juga uang dari kain tenun dari Kerajaan Buton, Sulawesi. Uang sepanjang telapak tangan dengan lebar empat jari seorang menteri besar itu beredar sekitar tahun 1597 hingga 1940. Ukuran uang ini selalu berubah tergantung pada panjang pendeknya menteri besar yang menjabat saat itu. Setiap menteri besar berganti, token kain pun berubah.

Puji mengoleksi koin-koin kuno dari dalam dan luar negeri yang pernah beredar di Indonesia. Perdagangan di masa lalu juga mengenal pertukaran uang. Orang China atau orang dari luar tanah Jawa menukarkan uangnya di money changer. (Y09)

(Sumber: Kompas, Jumat, 24 September 2004)

♦ Kontak Saya ♦

Nama Anda :
Email Anda :
Subjek :
Pesan :
Masukkan kode ini :

.

Photobucket

.

Pyzam Glitter Text Maker