Senin, 11 Januari 2010

Koin 5 Cent Terjual USD 3,7 Juta!


Sebuah koin langka yang pernah dimiliki raja Mesir dan dipakai dalam film detektif populer era 70-an Hawaii Five-O, laku terjual seharga 3,7 juta dolar (setara 37 miliar) dalam sebuah lelang terbuka di Florida, oleh Heritage Auctions pada Jumat lalu.

Koin 5 cent yang dikenal sebagai Liberty Head itu merupakan satu koin buatan tahun 1913 yang paling terkenal dari Amerika Serikat. Pembelinya adalah seorang kolektor yang tak ingin disebutkan namanya.

Koin tersebut pernah dimiliki Raja Faraouk dari Mesir sampai tahun 1952. Kemudian berpindah tangan beberapa kali, sampai akhirnya muncul dalam film seri Hawaii Five-O tahun 1973.

(www.medantalk.com, 10 Januari 2010)

Sabtu, 12 Desember 2009

Mao absen dari uang kertas Cina


Uang kertas baru Cina menonjolkan Olimpiade Beijing 2008

Untuk kali pertama dalam masa hampir 10 tahun, Cina menerbitkan uang kertas baru tanpa gambar pendiri Cina Komunis Mao Zedong.

Uang kertas pecahan 10 yuan baru ini berhias gambar stadium baru Olimpiade Beijing di depan, dan arca pelempar cakram kuno Yunani di belakang.

Kedua gambar berlatar belakang Kuil Langit, yang berlokasi di Beijing.

Uang kertas baru ini diterbitkan dengan enam juta lembar, tapi kebanyakan uang kertas yang beredar tetap menampilkan wajah Mao, pendiri Cina Komunis.


Mendominasi


Di dompet warga Cina, mantan tokoh tertinggi Komunis itu masih mendominasi, mulai dari uang kertas dengan nilai nominal terkecil hingga terbesar.

Wajah Mao mendominasi uang kertas Cina

Wartawan The BBC Quentin Sommerville di Shanghai mengatakan, dominasi Mao dalam mata uang Cina mulai berlangsung tahun 1999, ketika gambarnya diperkenalkan sebagai alat untuk memerangi pemalsuan uang, meski tidak berhasil.

Wartawan kami mengatakan, kultus individu Mao Zedong yang dulu mendominasi Cina secara umum telah tergeser oleh arsitek modernisasi Cina, Deng Xiaoping.

Di lingkungan politik sudah lama merebak debat soal menyingkirkan Mao dari permukaan mata uang dan menggantikannya dengan Deng Xiaoping, namun sejauh ini belum ada langkah serius yang diambil.

(Sumber: bbcindonesia.com)

Kamis, 03 Desember 2009

ITB Akan Luncurkan Koin Emas

Rabu, 25 Pebruari 2009

Bandung (ANTARA News) - Institut Teknologi Bandung (ITB) akan meluncurkan dan membagikan Koin Emas sebagai bentuk apresiasi kepada pihak-pihak yang telah berjasa kepada ITB.

"Rencananya kita akan membagikan koin emas kepada mereka-mereka yang telah berjasa terhadap kemajuan dan pembangunan ITB, " kata Koordintor Pembuatan Koin Emas dan Perangko ITB, Iman Sujudi, kepada ANTARA, di Bandung, Rabu.

Menurut dia, pembagian koin emas tersebut akan dilakukan pada saat peringatan Dies Natalis ITB ke-50 Tahun, tepatnya tanggal 2 Maret 2008, di Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung (Sabuga).

Dia mengatakan ada 34 orang dari 34 kategori yang akan menerima koin emas tersebut.

"Ada 34 orang yang menerima koin emas ITB namun untuk kategorinya kami belum bisa memberitahukan," kata Iman.

Ia mengatakan, jumlah koin emas yang akan dibuat oleh pihak ITB ialah 300 keping.

Pihaknya menyatakan koin emas tersebut juga akan dijual kepada masyarakat umum, namun Iman belum dapat memberi tahu jumlah pemesan koin tersebut.

"Belum, kita belum dapat memastikan berapa jumlah masyarakat umum yang akan membeli koin ini," katanya.

Iman mengatakan Koin Emas ITB terdiri dari dua versi yakni versi I dan versi II.

Koin Emas ITB versi I harganya Rp50 juta, memiliki diameter 5 cm, ketebalan 3 mm, serta terbuat dari bahan emas 24 karat, 35 gram dan memiliki dua pilihan gambar atau logo yaitu logo lambang ITB serta logo dies natalis ITB ke-50.

Koin Emas ITB versi II harganya Rp35 juta, memiliki diameter 3,5 cm, ketebalan 3 mm, terbuat dari bahan emas 24 karat, 25 gram dan memiliki dua pilihan gambar sama seperti versi I.

ITB juga akan meluncurkan empat jenis perangko pada acara Dies Emas Natalis ITB, kata Iman.(*)

(Antara.co.id)

Senin, 16 November 2009

Artikel-artikel Numismatik Terbaru


Saya memiliki beberapa artikel numismatik. Media cetak yang berminat, silakan menghubungi saya. Lihat ringkasan artikel-artikel tersebut di bawah ini.


Pyzam Glitter Text Maker




RINGKASAN

Mengenal “Grade” Koleksi Uang Kertas


Oleh: DJULIANTO SUSANTIO


Mengumpulkan uang-uang lama sudah mulai digemari para remaja dan murid-murid sekolah, meskipun koleksi mereka umumnya masih sangat sederhana. Yang dimaksud dengan uang lama adalah uang yang tidak bisa dipergunakan lagi untuk bertransaksi, istilah awamnya uang yang sudah kadaluwarsa. Namun bukan berarti uang-uang itu tidak mempunyai nilai. Justru di tangan segelintir orang, yakni para numismatis, uang demikian bisa berharga lebih tinggi daripada nilai nominalnya.

Numismatis adalah sebutan untuk orang-orang yang gemar mengumpulkan benda-benda numismatik. Sebenarnya istilah numismatik sangat luas. Pengetahuan ini mencakup uang lama (kuno), token (uang perkebunan), cek, obligasi, kupon, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembayaran. Namun karena yang paling populer adalah mata uang, maka numismatik sering diidentikkan dengan mata uang. Apalagi kata asalnya, numisma, dalam bahasa Latin memang berarti mata uang logam.

*******

RINGKASAN

Kondisi dan Motif Hobi

Oleh: DJULIANTO SUSANTIO


Pada lazimnya orang mengumpulkan benda-benda numismatik dalam kondisi yang paling bagus atau Uncirculated (Unc). Hal ini terutama dilakukan oleh mereka yang sudah berpenghasilan tetap, seperti karyawan atau wiraswastawan. Buat mereka yang berpenghasilan tidak tetap atau pas-pasan, tentu mengoleksi benda-benda yang berkategori XF atau F, sudah merupakan keberhasilan yang luar biasa. Dalam numismatik, kondisi Unc adalah yang paling maksimum, sehingga koleksi demikian sering kali dibanderol lebih tinggi dibandingkan koleksi-koleksi lainnya.

Gejala “grading maniac” (kegilaan akan kondisi terbagus) memang selalu melanda semua kalangan kolektor. Padahal, hal tersebut tidaklah terlalu mutlak mengingat setiap orang mempunyai alasan yang berbeda terhadap objek perhatiannya. Ini karena seseorang yang terlibat dalam kegiatan berkoleksi, memiliki beragam motivasi. Dengan demikian dia bisa merupakan kolektor murni, semu, atau berada di antaranya.

Kondisi sosio-ekonomi dan lain-lain akan menentukan usaha seorang kolektor untuk mengumpulkan yang terbaik. Seorang kolektor murni yang bermotif dasar mengumpulkan benda-benda numismatik dengan kondisi seadanya, tentunya sudah merupakan pemenuhan kepuasan yang memadai. Kecuali mereka yang mampu dalam hal segi sosio-ekonomi, pastilah akan memilih yang lebih berkualitas.

*******

RINGKASAN

Memulai Koleksi Numismatik

Oleh: DJULIANTO SUSANTIO


Pada prinsipnya aktivitas hobi dibedakan menjadi dua bagian, yakni “melakukan sesuatu” dan “mengumpulkan sesuatu”. Hobi kategori pertama misalnya traveling, memasak, menjahit, membaca, dan mendengarkan radio. Hobi kategori kedua antara lain mengoleksi prangko, komik, boneka, miniatur mobil, dan benda-benda memorabilia.

Salah satu hobi yang cukup langka dan banyak digeluti berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga pejabat, adalah mengumpulkan uang lama atau kuno. Berbeda dari hobi-hobi lain, hobi yang satu ini termasuk unik karena kesukaran dalam memperoleh informasi maupun barangnya.

Koleksi numismatik menjadi unik karena mata uang merupakan produk resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah yang berkuasa, meskipun peredarannya tidak memiliki periode yang pasti. Mata uang juga merupakan salah satu jati diri dari negara yang berdaulat. Bahkan di mata peneliti, mata uang merupakan artefak bertanggal mutlak karena mampu menjelaskan perjalanan sejarah bangsa secara kronologis.

*******

RINGKASAN

Hobi Numismatik Tergantung Motivasi

Oleh: DJULIANTO SUSANTIO


Kegemaran mengumpulkan uang-uang lama yang lazim disebut numismatik, sudah lama muncul di negeri kita. Namun, hobi numismatik itu belum berkembang secara maksimal karena berbagai kendala.

Salah satu kendala perkembangan numismatik di negeri kita adalah adanya anggapan bahwa numismatik merupakan hobi mahal. Anggapan itu memang ada benarnya karena beberapa jenis mata uang mempunyai harga yang ‘wah’ dan menggiurkan. Kalau kita patok harga yang ‘wah’ itu berada di atas kisaran satu juta rupiah, tentu pendapat demikian tidak seluruhnya benar.

Soalnya adalah masih banyak jenis mata uang, sebagai objek utama numismatik, berharga di bawah satu juta rupiah. Bahkan masih cukup banyak mata uang yang berharga murah, dari ribuan hingga belasan ribu rupiah, sehingga memungkinkan atau terjangkau oleh para remaja dan pemula yang ingin menggeluti numismatik.

Dengan menggeluti numismatik, ada beberapa manfaat yang bakal kita dapatkan. Misalnya saja pengetahuan, teman, bahkan keuntungan finansial. Keuntungan finansial sangat penting, utamanya dengan menjual koleksi yang dobel atau berlebih, sehingga kita bisa menunjang kegiatan selanjutnya.

*******

RINGKASAN

Mengukur Tingkat Kondisi Mata Uang

Oleh: DJULIANTO SUSANTIO


Koleksi yang sempurna dan enak dipandang, tentu saja adalah materi yang paling bagus. Jangan heran kalau sejumlah kolektor sangat fanatik dengan kondisi suatu mata uang. Sering kali mereka hanya menjatuhkan pilihan pada mata-mata uang dengan kondisi prima atau Unc. Kondisi bisa sedikit dilonggarkan bila jenis atau koleksi tersebut benar-benar langka. Taruhlah termasuk ‘grade’ EF (Extra Fine) atau F (Fine), itu dianggap sudah cukup.

Tingkat kondisi atau ‘grade’ yang berbeda juga memengaruhi nilai dan harga sebuah koleksi. Perbedaan tersebut terlihat pada perkiraan harga di buku katalog yang biasanya dibedakan atas tiga tingkat serta harga nyata yang terjadi atas suatu mata uang. Tingkat kondisi yang umum dijumpai pada buku katalog adalah prima (Unc), bagus (EF), dan lumayan (F). Tidak mustahil terdapat perbedaan harga yang menyolok di antara ketiganya.

Untuk jenis mata uang kuno dan lama sekali, agak susah secara tepat menentukan tingkat kondisinya. Cara-cara dan patokan yang diperkenalkan di bawah ini sekadar sebagai ancar-ancar atau perkiraan semata.

Mata uang kertas dikatakan sempurna bila masih utuh, tidak terdapat lipatan ataupun coretan/noda, dan kertas masih terasa keras kalau diraba. Bagi mata uang logam, gambar terlihat nyata, tidak ada goresan, dan gerigi di samping (kalau ada) masih utuh.

*******

RINGKASAN

Sejarah Uang Indonesia dan Istilah Duit

Oleh DJULIANTO SUSANTIO


Uang yang kita kenal sekarang, tidak dimungkiri, telah mengalami proses perkembangan yang sangat panjang. Merunut bukti-bukti sejarah, terlihat pada awalnya masyarakat belum mengenal pertukaran (barang). Dengan demikian uang belum tercipta. Ketika itu, setiap orang memang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.

Kalau lapar, misalnya, mereka akan berburu hewan, mencari buah-buahan, atau bahan konsumsi lainnya. Kalau kedinginan, mereka akan membuat pakaian sendiri. Apa yang diperoleh itulah yang selalu dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini karena bahan alam tersedia begitu melimpah. Jadi semuanya serba tidak kekurangan.

Seiring perkembangan jumlah populasi penduduk, ternyata apa yang diproduksi sendiri itu tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup mereka. Maka untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka kemudian mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang mereka butuhkan. Proses ini disebut barter atau tukar-menukar barang.

Akan tetapi proses ini memiliki beberapa kekurangan. Pertama, sulit menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan mau menukarkannya. Kedua, sulit memperoleh nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya. Contoh yang sederhana begini: sepotong singkong tentunya tidak sama nilainya dengan seekor kambing, bukan?

*******

RINGKASAN

Uang Kampua, Unik dan Langka

Oleh: DJULIANTO SUSANTIO


Sepanjang sejarah peradaban dunia, manusia mengenal sejumlah bahan yang berfungsi sebagai mata uang atau pengganti mata uang. Mata uang yang paling primitif antara lain batu, biji-bijian, kacang-kacangan, tulang ikan, batok kura, dan tulang mamalia. Ada pula berupa garam, kawat, kaca, manik-manik, dan kulit kayu. Setelah itu barulah diproduksi mata uang modern secara masal yang berbahan kertas dan logam.

Tidak banyak orang tahu kalau di negeri kita pernah beredar mata uang yang dibuat dengan keterampilan tangan. Mata uang tersebut dinamakan Kampua atau bida. Bahannya adalah kain yang ditenun. Daerah peredaran Kampua meliputi Kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara.

Menurut legenda, Kampua diciptakan pertama kali oleh Ratu Buton yang kedua, Bulawambona. Dia memerintah sekitar abad ke-14.

Kemungkinan Kampua merupakan uang tertua di Pulau Sulawesi. Selain di Buton konon Kampua juga pernah diberlakukan di Bone, Sulawesi Selatan.

Mata uang Kampua menarik perhatian para arkeolog, numismatis, sejarawan, dan pakar lain karena termasuk koleksi unik dan langka. Kalau pada umumnya mata uang dibuat dengan alat cetak, tidaklah demikian dengan Kampua. Mata uang ini ditenun dari serat kayu.

Jumat, 13 November 2009

Reuni SMA Budhaya


"Bersama Kita Bisa" menjadi tema Reuni Akbar SMA Budhaya yang akan digelar pada Minggu, 22 November 2009. Acara ini diselenggarakan di Ex Gedung SMA Budhaya PSKI, Jalan Matraman Raya 119, Jakarta Timur, pukul 11.00-17.00. Diharapkan ratusan sesepuh, pendiri, dan alumnus akan hadir dalam acara ini.

Sejak berdirinya pada 6 Agustus 1951, SMA Budhaya telah menghasilkan ribuan alumnus yang kini tersebar di berbagai kota dan instansi.

Reuni Akbar dibuat untuk mempererat kembali tali persaudaraan antara para alumnus dari semua angkatan, guru, dan pengelola sekolah. Selain temu kangen dengan para alumnus dan guru, akan diselenggarakan pula bazar dan hiburan.

Para alumnus yang berminat menghadiri Reuni Akbar, mohon menghubungi Eko Widodo (0812-1237-165), Erlina (0815-8667-9075), atau Rizal Rosano (0813-8070-7777).

Sejarah Singkat Dinar Emas dan Dirham Perak


Pada masa awalnya Muslimin menggunakan emas dan perak berdasarkan beratnya dan Dinar Dirham yang digunakan merupakan cetakan dari bangsa Persia.

Koin awal yang digunakan oleh Muslimin merupakan duplikat dari Dirham perak Yezdigird III dari Sassania, yang dicetak dibawah otoritas Khalifah Uthman, radiy’allahu anhu. Yang membedakan dengan koin aslinya adalah adanya tulisan Arab yang berlafazkan “Bismillah”. Sejak saat itu tulisan “Bismillah” dan bagian dari Al Qur’an menjadi suatu hal yang lazim ditemukan pada koin yang dicetak oleh Muslimin.

Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa standar dari koin yang ditentukan oleh Khalif Umar ibn ak-Khattab, berat dari 10 Dirham adalah sama dengan 7 Dinar (1 mithqal). Pada tahun 75 Hijriah (695 Masehi) Khalifah Abdalmalik memerintahkan Al-Hajjaj untuk mencetak Dirham untuk pertama kalinya, dan secara resmi beliau menggunakan standar yang ditentukan oleh Khalifah Umar ibn Khattab. Khalif Abdalmalik memerintahkan bahwa pada tiap koin yang dicetak terdapat tulisan: “Allahu ahad, Allahu samad”. Beliau juga memerintahkan penghentian cetakan dengan gambar wujud manusia dan binatang dari koin dan menggantinya dengan huruf-huruf.

Perintah ini diteruskan sepanjang sejarah Islam. Dinar dan Dirham biasanya berbentuk bundar, dan tulisan yang dicetak diatasnya memiliki tata letak yang melingkar. Lazimnya di satu sisi terdapat kalimat “tahlil” dan “tahmid”, yaitu, “La ilaha ill’Allah” dan “Alhamdulillah” sedangkan pada sisi lainnya terdapat nama Amir dan tanggal pencetakkan; dan pada masa masa selanjutnya menjadi suatu kelaziman juga untuk menuliskan shalawat kepada Rasulullah, salallahu alayhi wa salam, dan terkadang, ayat-ayat Qur’an.

Koin emas dan perak menjadi mata uang resmi hingga jatuhnya kekhalifahan. Sejak saat itu, lusinan mata uang dari beberapa negara dicetak di setiap negara era paska kolonialisme dimana negara negara tersebut merupakan pecahan dari Dar al Islam.

Sejarah telah membuktikan berulang kali bahwa uang kertas telah menjadi alat penghancur dan menjadi alat untuk melenyapkan kekayaan uamt Muslim. Perlu diingat bahwa Hukum Syariah Islam tidak pernah mengizinkan penggunaan surat janji pembayaran menjadi alat tukar yang sah.

(Sumber: wakalanusantara.com)

Dirham Dinar dalam Lintas Sejarah Indonesia


Nurman Kholis - Peneliti Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI

Lalu lintas uang di Indonesia sudah ada sejak abad ke-4 Masehi sebelum kedatangan kebudayaaan Hindu.

Uang Gobog

Pada zaman itu uang stempel dari pengusaha diterima sebagai jaminan bahan pembuatan uang yang secara intrinsik sering berada di bawah nilai nominalnya. Sejak datang kebudayaan Hindu, koin emas dan terutama koin perak mulai diberlakukan. Selain mata uang emas juga beredar mata uang gobog yang terbuat dari kuningan dan perunggu.

Peredaran uang emas juga berlaku di pulau Sumatra, dijelaskan dalam buku Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua yang ditulis oleh Uli Kozok. Sedangkan Claude Guillot dalam buku Barus Seribu Tahun Yang Lalu menyatakan bahwa karena sebagai penghasil emas, maka uang emas dan juga uang perak diberlakukan sebagai alat tukar di Barus. Pada perkembangan selanjutnya, hubungan Barus dengan Timur Tengah yang erat sejak abad ke-14 membuat kota ini menjadi salah satu pusat Islam yang pertama dan paling penting di Sumatra.

Sultan Malik Al Saleh

Pada zaman itu, berdiri kesultanan Islam pertama di Nusantara yang dipimpin oleh Malik al-Saleh dan selanjutnya digantikan oleh puteranya, Sultan Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326). Ia pun mempelopori pencetakan uang emas berornamen Islam yang pertama di Nusantara. Pada salah satu koin tersebut tertulis nama "Muhammad Malik al-Zahir". Selain sebagai alat tukar, pemberlakuan dinar dan dirham ini merupakan pelaksanaan ajaran Islam sebagaimana dijelaskan dalam berbagai kitab kuning.

Kedua mata uang ini, kemudian hilang dari peredaran dengan diberlakukannya uang kertas sejak abad ke-20. Nilai mata uang tiap negara selanjutnya distandarkan kepada dolar AS seiring didirikannya Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) pada 1944. Keberadaan kedua lembaga ini membuat Indonesia semakin terjerumus ke dalam krisis ekonomi. Sebab, meski secara politis merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 namun secara ekonomis semakin terjajah karena dalam perjanjian Renville antara Indonesia dan Belanda tahun 1945 telah disepakati persetujuan pada Konferensi Meja Bundar di Denhag Belanda. Salah satu hasil persetujuan dalam konferensi ini adalah berdirinya Republik Indonesia telah mewarisi hutang sebanyak 1,130 juta Dolar Amerika dari Pemerintah Hindia Timur Belanda. Sejak 1950, pemerintah Indonesia telah memiliki dua jenis utang, yaitu utang luar negeri warisan Hindia Belanda senilai 4 miliar Dolar AS dan utang luar negeri baru sebesar Rp 3,8 miliar yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Utang luar negeri Indonesia kini sebesar Rp 1.667 triliun, sehingga setiap orang Indonesia menanggung utang Rp. 7,5 juta.


Pasca Krismon 2007

Pascakrisis moneter 1997, ketidakadilan dalam pemberlakuan uang kertas dirasakan berbagai kalangan. Setahun kemudian, terbit dua buah buku terjemahan yang berisi gugatan terhadap uang kertas, memanadai awal kembalinya mata uang emas di Nusantara. Buku-buku tersebut ditulis oleh murid-murid Syekh Abdal Qadir al-Murabi as-Sufi, yaitu Dajjal-The Antichrist karya Ahmad Thomson yang diterjemahkan oleh Ahmad Iwan Adjie dkk menjadi Sistem Dajjal dan buku Jerat Utang IMF? yang ditulis oleh Abbdur-Razzaq Lubis (murid Syekh Abdal Qadir di Malaysia) dkk, dengan pengantar dari Zaim Saidi.

Pada 1999, Ahmad Iwan Ajie bersama kedua temannya Dwito Hermanadi dan Hendri Firman berkunjung ke Maroko untuk bertemu Syekh Abdal-Qadir as-Sufi yang saat itu tinggal di sana. Atas pengajaran Syekh Abdal Qadir, sekembalinya ke Indonesa ketiganya pun kemudian mencetak dinar dan dirham. Sejak itu, ketiganya dan Zaim Saidi, Direktur Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) saat itu, mengadakan sosialisasi tentang dinar dan dirham dalam berbagai forum.

Atas prakarsa mereka, Adi Sasono, yang saat itu Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) melakukan kunjungan dan bertemu dengan Syekh Abdal Qadir As-Sufi di Cape Town Afrika Selatan pada 2002. Mantan Menteri Koperasi dan PKM Kabinet Reformasi ini selanjutnya mengagas diselenggarakannya Silaturrahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI pada 24 s.d 26 Januari 2003. Dalam Silaknas tersebut berisi program untuk memasyarakatkan penggunaan dinar dan dirhami.

Kegiatan ini dikoordinir oleh Sugiharto dan acara pembukaannya dihadiri oleh Jusuf Kalla (kini Wakil Presiden Indonesia). Karena itu, saat menjabat Menteri Negara BUMN Kabinet Indonesia Bersatu, Sugiharto mengusulkan dinar dan dirham digunakan sebagai mata uang ASEAN. Hal ini ia sampaikan pada pembukaan Konferensi Uang Logam ASEAN di Jakarta, 19 September 2005ii. Sedangkan pada 2007, Wapres Jusuf Kalla mengusulkan agar dinar menjadi standar dalam penentuan harga minyak internasional. Hal ini ia sampaikan setelah bertemu Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad. Ia kemudian mengatakan kepada para wartawan, "gagasan Iran mengganti dolar AS dengan euro karena lebih stabil. Kenapa nggak dengan dinar saja yang lebih memiliki value."

Secara praktis upaya pencetakan dan penyebarluasan dinar dan dirham di Indonesia terus dilakukan oleh Zaim Saidi dengan mendirikan wakala (agen pertukaran) dinar dan dirham. Untuk memperdalam ilmu tentang kedua mata uang ini, dari pertengahan 2005 hingga pertengahan 2006, ia berguru kepada Syekh Abdal Qadir As-Sufi dan Umar Ibrahim Vadillo yang tinggal di Afrika Selatan. Sekembalinya ke Indonesia, ia semakin giat mensosialisasikan gerakan penggunaan kembali kedua mata uang ini. Zaim Saidi yang pernah jadi wartawan Republika juga menggagas pemberitaan kurs dinar terhadap rupiah. Sejak 14 Juli 2006, harian ini pun setiap hari memberitakan kurs kedua mata uang emas dan kertas tersebut. Selain itu, ia juga terus memperjuangkan pendirian wakala, agen pertukaran dinar dan dirham yang telah ia rintis sejak 1999. Kini, sekitar 60-an wakala tersebar di berbagai kota di Indonesia.


Transaksi Nyata

Salah satu transaksi jual beli dengan dinar sebagai alat tukar sebagaimana terjadi pada tanggal 7 April 2009. Saat itu, Ahmad Watik Pratiknya menyerahkan koin dinar emas sebagai bagian pembayaran pembuatan situs The Habibie Center kepada Riki Rokhman.iii Sebulan kemudian transaksi yang lebih banyak berlangsung pada Festival Hari Pasaran yang digelar di Pondok Pesantren Daarut Tauhid (DT) pimpinan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), di Bandung pada tanggal 10 Mei 2009. Dalam acara ini terjadi transaksi 65 Dinar Emas dan lebih dari 400 Dirham Perak dengan aneka komoditas antara 35 orang pedagang dengan para pembeli.

Festival Hari Pasaran Dinar Dirham Nusantara juga diselenggarakan di Lapangan Parkir Masjid Salman ITB, Jl. Ganesha No.7 Bandung pada 19-21 Juni 2009. Lebih dari 40 pedagang berpartisipasi dan terjadi transaksi 350 Dirham dan 75 Dinar. Menurut salah satu panitia dari DKM Masjid Salman ITB, Thorik Gunara, kegiatan pasar terbuka ini akan menjadi agenda rutin dan direncanakan akan diselenggarakan sebulan sekali.

iICMI Usulkan Penggunaan Dinar dan Dirham Bertahap. Republika, 28 Januari 2003
iiMenneg BUMN Usulkan Dinar dan Dirham. Kompas, 20 September 2005
ii"The Habibie Center Bertransaksi Dinar" http://www.jawaradinar.com, diakses tanggal 5 Agustus 2009.

(Sumber: wakalanusantara.com)

♦ Kontak Saya ♦

Nama Anda :
Email Anda :
Subjek :
Pesan :
Masukkan kode ini :

.

Photobucket

.

Pyzam Glitter Text Maker